oleh: Ys. Purnomo

Sosok dan karya
linus suryadi AG (3 maret 1951- 30 juli 1999), dilahirkan di dusun Kadisobo, kelurahan Trimulyo, kecamatan Sleman, kabupaten Sleman, Yogyakarta. Di tengah-tengah keluarga katolik dan petani jawa. Keluarga besar, I sendiri putera ke-2 dari sepuluh bersaudara.
Pernah ia kuliah di ABA Jurusan bahasa Inggris, dan IKIP Sanata Dharma Jurusan bahasa Inggris, tapi kedua-duanya tak sampai lulus. Selebihnya ia otodidaks.
Sejak tahun 1970-an, ketika ia mulai berkarya, diperkirakan sekitar 400 judul puisi telah lahir darinya. Setelah dipengaruhi oleh gaya puisi Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Taufik Ismail, akhirnya, ia dapat menemukan gayanya sendiri. Ia tertarik pada berbagai aspek kebudayaan Jawa, yang sangat di sadarinya sebagai kekayaan yang harus di gunakan semaksimal mungkin dalam sajak-sajak dan karyanya.
Perang troya(Jakarta: Pustaka Jaya, 1977: Cerita ulang anak-anak), Perkutut manggung (Jakarta: Pustaka Jaya)1986, kumpulan sajak), Tirta Kamandanu (Yogyakarta: Yayasan untuk Indonesia, 1997: kumpulan sajak). Regal megal-megol: fenomena kosmogoni Jawa (Yogyakarta: Andi offset, 1994), Dari pujangga ke penulis Jawa(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995: kumpulan esai bahasa dan sastra jawa) dan masih banyak lagi karya-karyanya yang pekat dengan ragam budaya jawa.
Mengenal Linus Suryadi Agustinus, mengenal dengan pengakuan Pariyem. Yang diakui maupun tidak telah menjadi masterpiecenya. Prosa lirik yang banyak mendapat perhatian dari pengamat dan penelaah sastra dari dalam dan luar negeri. Pengakuan Pariyem: dunia batin seorang wanita jawa (1981). Pada Tahun 1985 prosa liriknya ini terbit dalam edisi Belanda dengan judul De Bekentenis van Pariyem (terjemahan Marjanne Thermorshuizen). Terjemahan beberapa paragraf pernah dilakukan pula kedalam bahasa Inggris oleh jennifer lindsay dan di muat di Menagerie. Versi perancis sedang diterjemahkan menjadi les confessions de pariyem oleh henri chamberet-loir (pengakuan pariyem, cetakan ulang pertama oleh KPG, juni 2009).
Sebagai orang jawa tulen, ia begitu hapal seluk beluk kebudayaan, adat yang masih tertanam di batin orang-orang jawa tradisonal dan kratonan. Membaca tulisan-tulisannya, seperti menyimak langsung paparan kebudayaan jawa lengkap dengan mistik, ilmu hikmah pada setiap karya-karyanya. Penulisan yang alami, mengalir dan tak terkesan ada pemaksaan. Toh ia sendiri memang paham betul dengan apa yang ia tulis.
Dimensi spiritual pengakuan Pariyem
Ciri umum sastra yang bermuatan spiritual antara lain adanya pengagungan terhadap unsur yang tidak terlihat, yang ghaib, yakni nafas, ruh, atau sepirit semesta. Kekuatan suara terletak pada kemampuannya dalam memancarkan dan mendengungkan unsur yang tidak terlihat. Untuk kepentingan ini, sastra spiritual mengikhtiarkan diri hingga kegelapan gaiban untuk menggali daya hidupnya (Steweart, 2003).
Target penciptaan spritual adalah lahirnya karya yang mendekatkan diri kepada tuhan, mengacu kepada tuhan, dan mengingatkan kepada tuhan. Bahan apa saja yang bisa menjadi entriensiklopedianya, namun bahan itu akan diolah dalam kepiawian tertentu. Sastra spirirtual bertendensi menembus dan mengungkapkan makna spiritual kehidupan duniawi dan kehidupan akhirat dapat dihubungkan dengan baik secara sehat(Sudibyo, ulasan sastra atas cerpen Danarto: Depdiknas, 2005).
Tak berlebihan jika pengakuan Pariyempun bertendensi demikian. Selain sebagai prosa yang pastinya sebagai bacaan. Ada nilai-nilai keagamaan yang begitu pekat didalamnya.
…
Bukankah agama, begitu kata orang-orang tua kita
yang arif dan bijaksana, adalah ibarat pakaian?
Bila seorang wanita telanjang
dia butuh jarit, kebaya, dan kemben
-itu pakaian pembungkus badan
bila seorang pria telanjang
dia butuh sarung, surjan, dan blangkon
-itu sama faidahnya
demikianpun dengan agama
Agama ibarat pakaian. Yang dengannya tubuh bisa tertutupi. Dengannya borok, jelek tidak tampak lagi dari luar. Ajining raga saka busana, ajining jiwa ana ing lati. Dan sudah selayaknya, pakaian tadi agar tidak melenceng dari tujuan asal pembuatannya_menutupi dan juga sebagai pemantas_ adalah mesti bagus, mesti menutupi, harus yang bersih dan tidak kotor. Demikian dengan agama. Tidak hanya hanya sebuah kepercayaan yang di anggurkan begitu saja. namun perlu pula di pahes-pahesi di gambarkan dalam laku sehari-hari.
Berbicara agama, berkaitan dengan kepercayaan akan begitu subjektif. Satu orang dengan orang lainnya akan saling mengunggulkan, menyakini dengan seyakin-yakinnya agama yang dianut. Tidak perduli apakah ia telah benar-benar tahu benarkah yang ia yakini, salahkah kepercayaan itu. Terlepas dari yang demikian, saat berbicara tentang kedamaian, tentang ketentraman. Semua akan menyimpulkan satu hal yang sama. Semua menginginkan yang namanya ketenangan.
Dan pada tiap-tiap agama yang diibaratkan dengan pakaian itu, begitu banyak mengajarkan tentang kedamaian. Ada banyak amsal-amsal remeh yang sebenarnya penuh dengan hikmah.
Sebagai contoh, tubuh telanjang tanpa pakaian akan begitu mudah tersinggung panas, udara dingin. Dengan berpakaian dapat meredam panas, menahan dingin. Dalam agama yang demikian dinamakan sabar. Dengan mengamalkan agama secara benar. Akan bisa meredam dan menahan, tidak akan mudah dendam, kesumat, iri, dengki.
…
Hidup yang prasojo saja
tidak usah yang aeng-aeng
…
kabegjan masing-masing kita punya
sudah kita bawa sejak lahir
rejeki datang bukan karena culas dan cidra
tetapi karena uluran tangan hyang maha agung
…
Kemudian lagi, saat memilih, bajuyang dipakai adalah baju bersih, wangi, tidak kotor, agar tidak menyusahkan orang lain akibat bau yang ditimbulkan. Dalam agama ada toleransi. Kalau diri sendiri sakit dicubit jangan nyubit orang lain. Kalau merasa marah dihina, jangan menghina. Pakaian yang kotor segera dicuci dalam agama ada muhasabah, tafakur perbuatan yang telah lalu, bertobat dan berusaha untuk terus berbuat baik.
Dalam lembar-lembar berikut ia bicara tentang dosa dengan begitu ringan saja. Rasa dosa saya tak kenal, tapi rasa malu saya tebal. Dosa sendiri dalam sebuah keterangan kitab islam klasik adalah setiap perbuatan yang jika orang lain tahu, hatinya merasa tidak suka. Misal si anu bohong kepada isterinya ia ijin pulang malam ada meeting di kantor, padahal ketemu dengan teman perempuan barunya. Ia akan marah jika kebohongan itu di ketahui orang lain, itu dosa. Kalau marah diketahui saat kencan, itu dosa. Kalau marah ada yang memergoki buang angin sembarangan, itu juga dosa. Pariyem mengaku, tapi rasa malu saya tebal. Dan malu adalah satu-satunya benteng terbaik agar bisa terlepas dari perilaku jahat yang berdosa.
Orang yang masih mempunyai malu. Akan merasa eman menghina orang rendahan. Akan ewuh jalan melenggang begitu saja di depan pengemis tanpa memberi sedekah. Ia akan benar-benar tidak berani bohong, dusta apalagi menipu.
Potret Pariyem, wanita jawa
Perempuan adalah sosok yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, perempuan adalah keindahan yang pesonanya dapat membuat kagum laki-laki. Di sisi lain perempuan dianggap lemah(Thamrin, ulasan cerpen Sri Sumarah: Depdiknas: 2005). Dan dari kelemahan itu kerap menjadikan mereka terpingirkan. Hanya menjadi konco wingking, sebagai tulang rusuk kiri. Dalam karya sastra bahkan, posisi wanita kerap yang menjadi terlecehakn, inferior, takluk dan dilecehkan.
Wanita jawa tradisional dalam prosa lirik Linus yang diperankan Pariyem. Tidak beranjak jauh dari anggapan kebanyakan orang. Masih menjadi tokoh yang nelangsa. Dari kenelangsaan itulah, potret wanita jawa bisa lebih tergambar. Seorang wanita yang selalu menebar senyum dibibirnya. Setiap gerak-gerik, tingkah polah harus hati-hati. Kata-kata yang keluar menunjukkan pakerti dan kasar-lembutnya kepribadian.
…
Saya tak mau mempermalukan orang
dihadapan banyak orang
kendati saya dipermalukan orang
dihadapan banyak orang
itu kurang pekerti namanya
itu tidak baik buntutnya
…
Wanita ada ujar-ujaran adalah nisbat dari sifat tuhan, yang kasih sayangnya lebih besar dari marah. Lebih banyak memberi maaf dan tidak mendendam. Pariyem, wanita jawa dalam prosa lirik Linus di olah begitu penyabar. Wanita, wani ditoto, mau ditata, diatur. Sedang yang berhak mengatur adalah suami. Seorang lelaki yang telah diberi kepercayaan isterinya.
…
Ah, ya kesederhanaan sumber keindahan
yang suka ngumpet ditengah keramaian
tapi suka hadir didalam kesunyian
diwaktu kita polos dan telanjang
….
Begitu wanita-wanita jawa tradisional beranggapan. Tidak neko-neko tingkahnya yang sederhana saja. Yang prasojo.