sajak perempuan bersenandung
dunia ini riuh, memang
gemanya melengking
mendengung-dengung sampai bulan
tapi nada-nada sumbang tak akan selamanya
segar dinikmati
bahkan disenja yang damaipun
lambat, pasti akan segera dibuang
di tinggalkan
untuk mendendangkan irama lain
dan
kan aku tunjukkan pada semua,
kawanan awan
angin yang kerap berkelana
percik air yang menyahdukan tembang
pada kupu-kupu, lebah
: tentang perempuan yang memainkan nada-nada damai
pagi, senja dan malamnya
nada-nada teratur
lirik-lirik yang menjadikan kembang ditaman merekah
segar, semusim semi
janda-pualam kembali perawan
anak-anak berlarian bersama kupu
alam hening, sunyat, menyimak
nada itu memang nada bahagia
waktu sebagai dentingan gitar, rasa
gesekan biola
sajak itu disenandungkan dimana-mana, saja
menggantikan nada-nada bumi yang tak indah lagi
(Tahfidh al-Qur’an, 2009)